Pagi itu halaman Madrasah Ibtidaiyah Nurul Falaah tampak
berbeda.
Bendera merah putih dan umbul-umbul bergantungan di antara
bangunan madrasah. Anak-anak datang dengan wajah yang lebih ceria dari
biasanya. Ada yang mengenakan pakaian bernuansa merah putih, ada pula yang
memakai pakaian adat. Guru-guru ikut larut dalam suasana.
Hari belajar boleh saja berjalan seperti biasa. Tetapi hari
itu, sekolah terasa seperti sebuah kampung kecil yang sedang punya hajatan.
MI Nurul Falaah, Yayasan Cahaya Kemenangan, turut
menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik
Indonesia yang akan diperingati pada 17 Agustus 2026.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pawai kemerdekaan pada
Kamis, 13 Agustus 2026.
Pawai: Ketika Anak-anak Membawa Merah Putih ke Jalan
Pawai menjadi salah satu bagian yang paling ramai.
Anak-anak berjalan bersama guru dan pendamping.
Bendera-bendera kecil merah putih berada di tangan mereka. Sebagian mengenakan
pakaian adat Nusantara, sementara yang lain tampil dengan pakaian bernuansa
merah putih.
Di antara rombongan, terbentang spanduk bertuliskan semangat
kemerdekaan.
Tidak ada yang terlalu serius.
Ada anak yang berjalan sambil tersenyum. Ada yang sibuk
melihat kamera. Ada yang melambaikan tangan. Ada pula yang tampak masih
malu-malu berada di tengah keramaian.
Namun justru dari hal-hal kecil seperti itu, perayaan
kemerdekaan menjadi terasa dekat.
Bagi anak-anak MI Nurul Falaah, kemerdekaan bukan hanya
cerita tentang tanggal 17 Agustus yang dibacakan dalam buku pelajaran.
Kemerdekaan adalah pengalaman berjalan bersama teman-teman, mengenakan pakaian
yang berbeda, membawa bendera, dan belajar bahwa Indonesia memang terdiri dari
banyak warna.
Merah dan putih menjadi titik temu.
Balap Karung: Tawa yang Tidak Pernah Direncanakan
Setelah pawai, suasana semakin ramai ketika perlombaan
dimulai.
Salah satunya adalah lomba balap karung.
Karung sederhana menjadi perlengkapan utama. Anak-anak
memasukkan kaki mereka ke dalam karung, bersiap di garis awal, lalu melompat
sekuat tenaga ketika perlombaan dimulai.
Ada yang berhasil melaju cepat.
Ada yang baru beberapa lompatan sudah kehilangan
keseimbangan.
Ada yang jatuh lalu bangkit lagi.
Dan tentu saja, ada yang membuat teman-temannya tertawa
karena cara melompatnya justru lebih lucu daripada cepat.
Di sisi lapangan, guru dan teman-teman memberikan semangat.
"Semangat!"
Teriakan-teriakan kecil itu terdengar bersahutan.
Di sinilah perlombaan menjadi lebih dari sekadar mencari
siapa yang sampai lebih dulu.
Anak-anak belajar bahwa menang itu menyenangkan, tetapi berani
mencoba, tidak mudah menyerah, dan tetap tertawa setelah jatuh juga
merupakan bagian penting dari permainan.
Lomba Menggambar: Kemerdekaan dalam Imajinasi Anak
Jika balap karung penuh suara dan gerakan, lomba
menggambar menghadirkan suasana yang berbeda.
Anak-anak duduk di meja. Pensil dan krayon berada di tangan
mereka. Kertas terbentang di depan mata.
Tidak ada suara peluit.
Tidak ada aba-aba.
Yang ada hanya konsentrasi.
Seorang anak terlihat serius mewarnai gambar. Tangannya
bergerak perlahan mengikuti garis pada kertas. Warna hijau, merah, dan
warna-warna lain mulai memenuhi bidang gambar.
Bagi orang dewasa, mungkin itu hanya sebuah gambar
sederhana.
Tetapi bagi seorang anak, gambar bisa menjadi cara untuk
bercerita.
Tentang sekolah.
Tentang Indonesia.
Tentang apa yang mereka lihat dan bayangkan.
Karena itu, lomba menggambar bukan hanya tentang siapa yang
gambarnya paling bagus. Ia juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk berimajinasi,
berekspresi, dan menuangkan gagasan dengan cara mereka sendiri.
Guru Tidak Hanya Menonton
Satu hal yang terasa kuat dari kegiatan ini adalah
keterlibatan para guru.
Guru tidak hanya berdiri di belakang dan mengawasi.
Mereka ikut tertawa, memberikan semangat, membantu
anak-anak, mengambil dokumentasi, bahkan ikut menikmati suasana.
Begitu pula dengan orang tua dan keluarga yang hadir.
Halaman madrasah pada akhirnya menjadi tempat bertemunya
banyak orang: guru, siswa, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Sekolah tidak lagi terasa seperti tempat anak datang untuk
belajar lalu pulang.
Untuk beberapa jam, madrasah menjadi ruang bersama.
Ruang untuk tertawa.
Ruang untuk bermain.
Ruang untuk mengenal satu sama lain.
Dan ruang untuk mengingat bahwa pendidikan tidak selalu
harus berlangsung di dalam kelas.
Kemerdekaan yang Diajarkan Lewat Pengalaman
Ada banyak cara mengajarkan arti kemerdekaan kepada
anak-anak.
Bisa melalui buku sejarah.
Bisa melalui upacara.
Bisa melalui cerita tentang para pahlawan.
Tetapi pengalaman seperti pawai dan perlombaan juga
mempunyai tempatnya sendiri.
Anak-anak belajar tentang kebersamaan ketika berjalan
bersama.
Belajar tentang keberanian ketika mengikuti
perlombaan.
Belajar tentang sportivitas ketika menerima hasil
pertandingan.
Belajar tentang kreativitas ketika menggambar.
Dan belajar tentang persaudaraan ketika memberikan
semangat kepada teman.
Nilai-nilai itu mungkin tidak selalu tertulis di papan
tulis.
Tetapi mereka tumbuh melalui pengalaman.
Inilah salah satu cara pendidikan karakter bekerja: bukan
hanya dengan mengatakan kepada anak apa yang baik, tetapi memberi mereka
kesempatan untuk mengalami dan mempraktikkannya.
Merawat Semangat Kemerdekaan dari Madrasah
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di MI
Nurul Falaah menjadi bagian dari tradisi kebersamaan yang terus dirawat di
lingkungan Yayasan Cahaya Kemenangan.
Kegiatan seperti pawai, balap karung, lomba menggambar, dan
berbagai permainan lainnya mungkin terlihat sederhana.
Namun di balik kesederhanaan itu ada sesuatu yang penting: kenangan
masa kecil.
Kelak anak-anak mungkin tidak lagi mengingat siapa yang
menjadi juara pertama.
Mungkin mereka juga lupa berapa kali mereka jatuh ketika
balap karung.
Tetapi bisa jadi mereka masih mengingat halaman madrasah
yang penuh bendera merah putih.
Masih mengingat teman-teman yang tertawa.
Masih mengingat guru yang berteriak memberi semangat.
Dan mungkin, bertahun-tahun kemudian, ketika mendengar
lagu-lagu kemerdekaan, mereka akan teringat pada hari ketika mereka berlari,
melompat, menggambar, berjalan bersama, dan tertawa di halaman MI Nurul Falaah.
Sebab kemerdekaan juga perlu dikenalkan kepada anak-anak
melalui kegembiraan.
Dari halaman kecil madrasah, semangat itu tumbuh.
Merah putih bukan hanya dikibarkan.
Ia juga dikenalkan melalui kebersamaan, pendidikan,
permainan, dan pengalaman.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Terus belajar. Terus berkarya. Terus menjaga persatuan.
Dipublikasikan oleh :
Yayasan Cahaya Kemenangan.
MIS Nurul Falaah.
Tempat anak-anak belajar tentang ilmu, iman, akhlak—dan tentang bagaimana kelak menjadi manusia yang berguna.
📍 Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara
🌐 www.yck.or.id